 |
| Desember 2025 |
Dalam 10 tahun hidup seseorang, pastinya banyak sekali perubahan dan upgrade diri yang dialami. Begitu pula dengan keluarga kecil kami.
Halo!
Perkenalkan anak laki-laki yang berada di sisi kanan foto bernama Faro, adik dari Kaila yang sekarang sudah sebesar ini. Bila perhatikan pose saya dan suami, kami sedang memegang perut buncit gemas yang dibalut kain berwarna merah dan ya, kami sedang menanti buah hati kami yang ketiga di tahun 2026 ini.
Life happens.
Setelah mengingat-ingat alasan saya tidak update blog lagi sejak 2016 sepertinya selain karena tenggelam dalam kesibukan pekerjaan dan kehidupan, media untuk update cerita saya beralih ke
instagram dengan segala kemudahan, koneksi serta keseruan yang dihadirkan oleh platform tersebut. Cerita petualangan kami ke negeri seberang pun terekam dalam postingan instagram tahun 2019, lalu dilanjutkan kehamilan kedua di tahun 2020 yang berbarengan dengan Pandemi Covid19 dengan jumlah post yang terbilang sedikit dikarenakan krisis percaya diri saya akibat bentuk tubuh yang gemuk efek WFH (work form home) sekaligus hamil. Fast forward 2022-2023 merupakan fase rebellious saya akan kondisi tubuh dan pikiran, fokus saya bergeser kepada peluang bisnis MLM healthy lifestyle sekaligus juggling between work and home. Banyak sekali pelajaran yang didapat selama 10 tahun ini. Di titik ini, 2026, sambil mengandung anak ketiga, saya dipertemukan dengan sebuah kesempatan untuk merenung (a.k.a cuti hamil) dan perlu media yang bisa menyalurkan segala buah pikiran yang memenuhi otak saya yang sedang berkabut ini, tentunya blog yang sudah berdebu akhirnya coba kusentuh kembali.
Mau cerita apa sih?
Hidup. Refleksi 10 tahun kebelakang. Bagaimana arah dan tujuan, impian serta prinsip yang dulu sangat dipegang, ternyata bisa diluluhkan oleh waktu.
2018 - Awal mula-
2018 awal dapat kabar baik bahwa saya masuk daftar seleksi program pendidikan lanjutan (Diklan) S2 ke luar negeri dari kantor. Senang? banget!! flashback circa 2008 inget banget betapa menyesalnya saya dengan diri yang takluk pada ketakutan dalam diri. Bayangin aja udh persiapin diri dengan matang; nyiapin materi, latihan presentasi dalam bahasa inggris, diskusi sama temen kosan yang jurusannya sastra inggris buat benerin script, untuk ikut seleksi program pertukaran mahasiswa ke German. Ketika hari H, sudah sampai depan pintu, inget banget saya melihat teman yang sedang presentasi dari kaca pintu menunggu giliran, tiba-tiba nyali ciut mendadak. Lalu memutuskan untuk pulang, hahahaha. Siapa sangka 10 tahun kemudian dapat kesempatan yang lebih baik, tentunya saya sambut dengan niat baik, hati yang bahagia dan semangat membara.
Long short story setelah mengikuti berbagai tes seleksi, Alhamdulillah saya berhasil masuk kedalam program bersama 10 karyawan lainnya. Lanjut apply ke beberapa universitas, ikut pembekalan persiapan, mengurus visa dan lainnya hingga di September 2018 kami (saya, suami dan kaila) berangkat ke Nottingham, UK.
2019 -UK life-
1 tahun hidup merantau di negeri orang buat saya sangat cukup. Sepertinya di paruh kedua udah mulai homesick dan mimpiin rumah terus hihihi. Alhamdulillah kuliah lancar, adaptasi rumah tangga juga baik dan banyak mendapat teman baru baik dari komunitas Indonesia maupun mancanegara. Kaila dapat kesempatan untuk sekolah disana dan adaptasinya pun sangat baik. Suami menyesuaikan diri dengan bekerja freelance subuh dan malam ketika saya sedang ada di rumah, lalu gantian menjaga kaila siang hingga sore ketika saya di kampus. Tentu termasuk pekerjaan rumah kami kerjakan bersama, masak, nyapu, ngepel, cuci baju, setrika dan beberes flat. Di sinilah kami mendapat kesempatan untuk mengenal kembali diri sebagai pasangan dan juga orang tua. Tidak mudah tentunya, tapi dapat kami lalui dengan baik dan belajar banyak hal.

Bayangin aja suami yang sebelumnya kerja 8 to 5 sebagai karyawan, saat itu berubah drastis ikut mengurus rumah tangga sambil kerja freelance. Beliau juga sempat bilang memang agak shock awalnya tapi lama-lama jadi terbiasa meskipun sampai sekarang selalu enggan sama yang namanya nyetrika baju, kapok katanya, haha. Saya pun awalnya perlu penyesuaian setting mode kerja ke mode belajar serta berpikir untuk meraih koneksi sebanyak-banyaknya serta mencari sesuatu yang bisa berkontribusi untuk perusahaan. Beasiswa dari perusahaan dengan ikatan dinas tentu merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagi saya, karena saya akan mengikatkan diri selama beberapa tahun ke depan untuk berdedikasi di perusahaan.
Alhamdulillah, pada October 2019 setelah mendapatkan info kelulusan, kami bergegas kembali ke Indonesia sambil mampir liburan ke eropa sebelum sampai di Jakarta. Betapa senangnya kembali bisa tidur di kasur rumah dengan AC, makan nasi padang, serta pijat dan creambath! hahahaha. 3 Hal yang sangat saya kangenin selama disana. Di bulan Desember saya ditemani adik saya kembali ke UK untuk mengikuti wisuda, alhamdulillah dimodalin sama suami dari hasil kerja freelance selama disana terharu bgt dan sangat berterimakasih pada beliau, lope lope bgt deh!! hihihi.
2020 -Pandemic strike-
Awal tahun 2020 masih menyesuaikan kehidupan di Jakarta terutama dalam hal pekerjaan. Terkaget-kaget 1 tahun saja banyak hal yang berubah baik orang-orang baru, perubahan sistem, struktur organisasi dan tentunya ekspektasi dari kepulangan saya dengan gelar baru menjadi sorotan yang cukup membuat saya agak risih. Sekitar Februari-Maret waktu itu Covid 19 mulai masuk dan pemberlakuan Work Form Home (WFH) mulai efektif berjalan tentu membuat adanya penyesuaian kembali alur pekerjaan terutama perpindahan sistem offline ke online. Apalagi untuk kami, dibarengi dengan kehamilan anak kedua kami, Faro. Meskipun kalut dengan ketidakpastian kondisi saat itu, namun WFH merupakan sebuah hadiah besar untuk saya karena bisa menikmati kehamilan dan kelahiran di masa pandemi, membuat saya lebih dekat dengan Kaila dan Faro. Transisi dari WFH kembali ke kantor pun berjalan perlahan dengan berbagai penyesuaian dan protokol kesehatan dan yeah! we survived :)
2021-2023 -Turning point-
Tahun 2021-2023 bisa dibilang roller coaster karir sekaligus ujian orientasi tujuan hidup untuk saya. Berat ya kayaknya, tapi memang itu yang saya rasakan. Karir saya naik turun litterally kayak roller coaster, menyaksikan dan merasakan sendiri pola sistem yang ada membuat carreer path saya tiba-tiba loncat naik, lalu turun, lalu naik lagi dan turun lagi wkwkwk. Hal tersebut membuat saya lelah, stress hingga depresi (i would say). Namun pertolongan Allah memang nyata, setiap saya merasa buntu selalu saja ada penolong entah itu itu berupa keikutsertaan program pembelajaran, challenge untuk mendaki gunung yang tidak bisa di hindari, teman-teman baik yang menemani, support system di rumah yang mendukung perubahan-perubahan, kesempatan pengalih perhatian yang membuka peluang perbaikan diri dan juga cuan, banyak bgt dehhh.

Lelahnya dengan perubahan dan politik kantor membuat saya mengalihkan perhatian ke diri saya sendiri. Pasca hamil dan melahirkan di masa pandemi, membuat tubuh saya gemuk dan hasil medical check up saya banyak bintangnya. Saya merasa cepat lelah, sering ngantuk dan gerah dengan diri saya sendiri. Naik Gunung merupakan puncak titik baliknya. Tengah tahun 2022 saya berhasil menaklukan puncak Gunung Gede dengan bekal perbaikan fisik dari awal tahun. Namun ternyata belum cukup puas, akhir tahun saya ikut program diet yang ternyata membuka peluang bisnis MLM yang akhirnya saya ikuti. Jujur saat itu yang saya pikirkan adalah saya perlu pengalih dari kacaunya tekanan pekerjaan dan i ended up serius mengikuti bisnisnya hampir 2 tahun lamanya. Ga mudah mengerjakan 2 pekerjaan sekaligus namun bisa dijalankan. Waktu saya tersita banyak di luar rumah; ke kantor, ke cafe ketemu klien, mondar-mandir menjemput bola di sela-sela waktu istirahat atau perjalanan dinas. Pun jika sedang di rumah, jadwal saya tetap padat dengan virtual meeting sampai suami sempat protes karena merasa saya "tidak hadir". Jangan salah, saya pun sempat menyeret suami untuk ikut serta dalam bisnis, ya, seserius itu.

Tengah tahun 2023 saya mencoba challenge baru yaitu dengan ikut serta event lari di Bali. Perubahan fisik yang saya alami cukup signifikan (in a positive way) membuat saya percaya diri untuk memulai hobi baru ini. Betapa bangganya saat itu saya bisa lari pace single digit tanpa ngos-ngosan dan sangat menikmatinya. Didorong teman kantor saya saat itu, saya memberanikan diri dan memang sedikit memaksa memilih event di luar kota agar kami bisa sekalian berlibur.
Yang saya lupa adalah suami saya saat itu sedang berjuang untuk membangun bisnisnya sendiri juga. He ended up tetap bawa laptop dan ngerjain kerjaan di hotel. Namun masalahnya, saat itu saya ikut event lari dalam keadaan kurang fit, kondisi udara di Jakarta sedang buruk dan ISPA sedang merebak, saya pun baru sembuh dari batuk pilek berkepanjangan. Apakah saya berhasil finish 10K di event lari perdana saya tersebut? Yes! tapi ga masuk cut off time (COT), miris deh lewat 3 menit aja. Di kilometer 3 tiba-tiba pandanganku berkabut sampai ga bisa melihat dan sempat di tolong medis juga. Ternyata krn selain kondisi belum fit, pola makan yang saya jalani kurang sesuai dengan kebutuhan aktifitas lari.




Dikarenakan suami sibuk depan laptop, beberapa kali anak-anak main di pantai dan kolam hanya saya yang menemani, hal tersebut ternyata membuat badan saya lebih mudah drop karena kurang istirahat. Udah agak menyadari sebenarnya karena badan mulai ngreges sebelum hari H event sehingga saya pun menyempatkan diri untuk spa di hotel. Setelah selesai event badan saya beneran drop, demam ketika perjalanan pulang di pesawat dan sesampainya di bandara Jakarta tiba-tiba saya sesak nafas, dada saya sakit sampai tidak bisa berjalan dan berakhir di IGD. Diperiksa dokter IGD tidak ada yang membahayakan dan kami pulang kerumah, namun saya tetap mengalami kesulitan bernapas dengan lega, dada sperti ada yang menusuk setiap kali bernapas. Saya memutuskan utk tidak masuk ke kantor selama seminggu dan ketika kembali ke kantor, ada aja gitu ya kalimat tidak mengenakan yang sampai ke telinga saya, haha. Jadi memang waktu itu saya merasa di kantor tdk cocok, di rumah pun tidak sepenuhnya belong to gitu sementara di bisnis yang saya jalani pun saya merasa mulai tidak cocok dengan idealismenya.
2024-2026 -Focus-
2024 akhirnya saya memutuskan untuk kembali fokus ke kantor dan meninggalkan bisnis yg sempat kugeluti. Management berkali-kali berubah, posisi saya pun sama masih berubah beberapa kali, namun tetap saja saya kembalikan ke niat untuk mencari berkah penopang kehidupan kami dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Cukup sudah coba-cobanya. Selain itu di satu sisi lain suami saya juga mengusahakan yang terbaik untuk menghidupi keluarga kami. Best he can i believe.
2024 kami berempat berlibur ke Tokyo selama seminggu dan di 2025 kami sempatkan berlibur ke Kepulauan Pahawang, Lampung bersama dengan 2 keluarga teman sekolah Kaila. Di 2 tahun ini secara karir, saya berganti posisi 3 kali, hingga di awal 2025 sampai sekarang di awal 2026 alhamdulillah masih settle di 1 posisi hingga sekarang saya sedang cuti melahirkan. Menyiapkan kehadiran anggota keluarga baru dan insyaAllah anak terakhir yaa hihihi.
The Verdict
Highlight yang saya tampilkan di
postingan kali ini
mostly adalah
event yang
memorable selama 10 tahun terakhir. Khususnya masa tahun 2021-2023, kepribadian saya banyak berubah karena bisnis yang sempat saya jalani menuntut saya untuk keluar dari sarang kenyamanan introvert untuk menjalin hubungan dengan sebanyak-banyak nya orang. Pun
mindset saya ikut berubah karena sempat merasakan jika kita berusaha lebih, yang didapat juga akan mengikuti jika Allah mengizinkan. Sehingga, sedikit banyak pandangan saya tentang idealisme arah, tujuan dan impian hidup yang sempat kusinggung di awal post,
which comes from pembicaraan di awal pernikahan kami,
yes diluluhkan oleh waktu, ga ada yang tau terjadinya jauh dari apa yang dulu direncanakan. Tapi sejatinya masih amat sangat mungkin dicapai, tentu disertai dgn ikhtiar dan doa yang kuat. Yakin akan qadha dan qadhar dari Allah (cek
ini deh, bagus), bahwa semua sudah diatur berdasarkan kemampuan hambaNya. Tak lupa sesekali berhenti sejenak untuk mengopi dan menyadari keberlimpahan berkah yang dikucurkan oleh Allah selama ini, melihat seberapa jauh pencapaian yang dulu tak pernah terpikirkan. Hubungan saya dengan suami tentunya mirip-mirip
roller coaster juga tapi kami selalu menopang satu sama lain dan InsyaAllah kami selalu berdoa agar diberikan petunjuk serta kemudahan dalam membimbing anak-anak kami di tengan gemelut ketidakpastian dunia ini. :)
0 comments :
Post a Comment